Sabtu, 26 Maret 2016

karya pesantren

Karikatur Satir ala Santri


DALAMrangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) Kementerian Agama menggelar festival, yang salah satu rangkaian acaranya adalah Pameran dan Sarasehan Kartun Santri Nusantara .

Pameran itu berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta dari 24-30 November 2015. Dalam pameran tersebut karikatur yang disajikan mengangkat tema beragam. Dari toleransi, mencegah radikalisme, politik, kerukunan, gotong-royong, hingga beberapa kultur kehidupan santri di pesantren yang menggelitik. Ketua Dewan Juri Ibnu Thalhah menilai, meski tema yang diangkat cukup beragam, kekuatan dari pesan yang ingin coba disampaikan para kartunis sangat cerdas.

Unsur satir dan humor begitu kental terdapat pada beberapa karya kartunis yang dipamerkan. Meskipun beberapa kartunis mencoba berbicara tentang korupsi, misalnya, gelak humor cukup tersurat di beberapa unsur gambarnya. Hal ini pun disambungkannya sebagai salah satu ciri khas santri yang kebanyakan memiliki selera humor tinggi. Dia pun langsung menepis jika ada anggapan bahwa santri merupakan sosok yang melulu serius.

”Unsur satir dan humor banyak tertuang dalam pameran ini. Santri jika tidak memiliki selera humor yang baik barangkali santrinya belum paripurna,” katanya berseloroh. Keragaman tema yang diangkat pun juga banyak mewakili ironi dari masalah yang tengah berkembang saat ini. Dari problematika dunia pendidikan pesantren yang terkontaminasi pemahaman radikal, kehidupan umat beragama yang rentan karena perbedaan pemahaman, serta ironi pada isu-isu internasional semisal perjuangan bocah Suriah yang terdampar di pantai Turki, Aylan Kurdi.

Aylan menjadi simbol ironi kemanusiaan karena pergulatan politik dan krisis perang yang terjadi. Namun, di tengah banyaknya ironi yang coba disampaikan dalam beberapa karikatur, Ibnu menunjuk satu karya dari Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) yang berjudul Hanien . Dalam melihat karya milik Gus Mus tersebut, Ibnu menangkap ada semangat optimisme yang begitu kuat di tengah gempuran masalah yang ada.

Dalam pandangan Ibnu, Gus Mus yang merupakan salah satu tokoh pemimpin santri bahkan menghilangkan formalisme kiai yang ada dalam dirinya. Hal itu ditunjukkan dari tiap syair dan karya seni yang dibuatnya. Lukisan Gus Mus yang berjudul Hanien , meski banyak masalah yang coba disampaikan, juga tak lupa menyelipkan semangat-semangat perjuangan.

Harapan-harapan yang masih ditawarkan dari tiap kemungkinan. Gus Mus mencoba mengingatkan kembali bahwa di tengah masalah, cobaan, dan musibah selalu ada jalan keluar yang bisa ditempuh dengan semangat. ”Karya Gus Mus, menurut saya, banyak menceritakan problematika. Di samping itu, beliau menyelipkan sebuah garis senyuman dalam abstrak wajah lukisannya. Itu bagi saya adalah sebuah senyum harapan dan optimisme,” katanya.

Kurator pameran, Kuss Indarto, menilai, karya-karya yang dipamerkan mencoba mengangkat masalah mendasar yang substansial dalam kehidupan beragama. Misalnya bagaimana relasi agama dan politik, agama dan komersialisasi, agama dan toleransi, serta agama dan budaya. Bagaimana agama dalam hal ini Islam diterapkan berbeda secara kultural di Indonesia dari negaranegara Islam di Timur Tengah, dengan landasan akidah yang tak menyalahi aturan agama. Kuss mengutip istilah Gus Dur, membumikan kembali agama.

”Pameran ini mengangkat banyak isu tentang hal yang sangat substansial dari agama. Yang penting juga, bagaimana masyarakat kembali membumikan agama dalam kehidupan sehari-hari,” katanya. Menurut Kuss, bagaimana mengaktualisasikan lagi persoalan agama agar lebih dekat dan membumi dalam masyarakat menjadi sangat penting demi keberlangsungan umat beragama. Agama menjadi alat dalam membangun kerukunan, rahmat bagi siapa pun.

Toleransi, entah mengapa, di Indonesia disimbolkan oleh figur Gus Dur. Figur Gus Dur pun banyak dijadikan karikatur oleh beberapa karya yang dipamerkan. Dalam hal ini Kuss secara eksplisit mengungkapkan bahwa tidak semua kartunis yang menjadikan figur Gus Dur sebagai karikatur dimenangkan dan dipamerkan. Beberapa karikatur Gus Dur yang dipamerkan tidak dilihat dari sosok Gus Dur-nya, akan tetapi nilai dan substansi dari pesan yang coba disampaikan dari karya tersebut.

Beberapa karya yang mengangkat karikatur Gus Dur pun banyak yang tereliminasi karena beberapa alasan. Baik dari segi isi maupun juga kepantasan. ”Tidak semua karikatur yang mengangkat figur Gus Dur dimasukkan ke dalam pameran, kami menyeleksi dulu mana yang memenuhi syarat baik dari isi maupun kepantasan,” katanya. Sosok Gus Dur saat ini menjadi sangat penting sebagai simbol akan pluralisme dan toleransi.

Pemikiran agama dan bangsa yang ditelurkan oleh Gus Dur merupakan warisan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Tak mengherankan, tutur Kuss, sosok Gus Dur menjadi sangat menginspirasi para kartunis dalam mereka-reka karakter dengan semangat nasionalisme, pluralitas, dan toleransi yang kuat. Juara 1 Kategori Santri Muhammad Bahrudin mengatakan, toleransi dan gotong-royong adalah instrumen menuju negara yang aman dan makmur.

Karyanya yang berjudul Agama dan Bakti Kemanusiaan , adalah refleksi masa-masa hidupnya di pesantren dulu. Dia menceritakan bagaimana lokasi pesantrennya yang bersebelahan dengan gereja dan tak jarang santri ikut membantu menyapu pelataran gereja jika kebaktian akan dimulai, begitu pun sebaliknya.

Imas damayanti 
sumber :http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=7&date=2015-12-06
diposting :Edisi 06-12-2015